Jumat, 28 Januari 2011
Senin, 06 September 2010
Harga kakao meningkat di Aceh
Petani Aceh Nikmati Harga Kakao Tinggi
Pedapatan para petani kakao kini lebih beruntung dari biasanya karena ongkos produksi atau biaya perawatan kebun sesuai dengan perolehan hasil panen. Setelah dipotong biaya produksi, mereka bisa menabung dan berbelanja kebutuhan lainnya. Itu sebabnya para petani kakao setempat sekarang semakin rajin berusaha dan membersihkan kebunnya. Bahkan, mereka lebih aktif memelihara tanaman kakao yang masih muda agar bertambah baik petumbuhan dan lebih cepat memasuki masa pruduktif.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Kabuapaten Pidie, Said Mulyadi, Rabu (3/2), di Sigli mengatakan, tingginya harga kakao sekarang karena permintaan pasar Medan, Sumatra Utara, meningkat. Ini diduga karena stok barang di tingkat pengusaha besar menipis. Untuk menutupi permintaan pasar, maka harga di tingkat tengkulak juga naik. "Sebulan lalu sudah pernah naik dari Rp20.000 menjadi Rp22.000. Tapi, sekarang harga yang paling menguntungkan petani. Kami harapkan ke depan harga semakin lebih baik," kata Said.
Petani kakao di Kecamatan Tangse, M Nafi, mengatakan, naik turunya harga kako di Aceh jarang sekali terjadi karena pengaruh pasar global. Ini sering terjadi akibat permainan pengusaha besar pasar Medan. Apalagi, hasil pertanian di Aceh dipasarkan ke berbagai negara lain melalui pasar Medan. "Mereka kadang membeli murah dengan alasan sedang musim panen. Tidak mungkin panen kakao Aceh bisa mempengaruhi pasar internasional," kata M Nafi. Pihaknya berharap pemerintah dapat mengontrol harga kakao yang selalu sesuai dengan pasar dunia.
Kabupaten Pidie merupakan salah satu kawasan penghasil kakao di Provinsi Aceh. Kebun tersebut milik petani setempat. Dari 23 Kecamatan di Pidie, sebagian di antaranya memiliki kebun kakao seperti Kecamatan Padang Tiji, Mila, Tangse, Mane, Geumpang, Geulumpang Tiga, Tiro Truseb, Keumala, Sakti, dan Mutiara. (MI/ICH)
Senin, 30 Agustus 2010
Makna Puasa
Kebetulah dapat info kita berbagi yeee.
Menyelami Kedalaman Makna Puasa
- Oleh Ibnu Djarir
SGF Brandon dalam bukunya A Dictionary of Comparative Religion menyebutkan beberapa motivasi puasa dalam agama-agama suku, antara lain (1). Menandai persiapan remaja yang memasuki kehidupan beragama; (2 ) Sebagai ungkapan rasa berkabung; (3). Sebagai bentuk pertaubatan. Suatu kepercayaan, bahwa penderitaan dengan menahan diri dari makan dan minum dapat meredam kemarahan dewa, adalah umum dilakukan di dunia.
Menurut ajaran Islam, puasa adalah suatu ibadat menahan diri dari makan, minum, dan hubungan seksual pada siang hari dengan menjauhi perbuatan yang tercela. Tujuan puasa dinyatakan dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 183 yang artinya,’’ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yang bertakwa.’’
Takwa dalam arti luas mencakup pengertian : (1). Takut kepada Allah SWT atas siksa-Nya yang pedih bagi orang yang mengabaikan perintah dan melanggar larangan-Nya; (2). Taat kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya; (3). Cinta kepada Allah SWT, Pencipta alam semesta,Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan selalu taqarrub ( mendekat ) kepada-Nya.
Menurut para pemeluk agama Yahudi, Nabi Musa sebelum menerima wahyu dari Tuhan di Bukit Sinai berpuasa 40 hari , mulai terbit fajar hingga terbit bintang pada senja hari. Menurut keyakinan mereka, orang yang akan menerima wahyu Tuhan harus suci lahir dan batin. Kalau tidak suci, dia tidak dapat berkomunikasi dengan Tuhan, sebab Tuhan Maha Suci.
Umat Kristen menjalankan puasa mulai pagi hingga senja hari, dan dapat diperpanjang hingga paginya lagi dengan membaca doa-doa. Dalam agama Kristen, puasa tidak bersifat wajib tetapi sukarela. Karena dalam agama Kristen terdapat banyak denominasi (aliran), pelaksanaan puasa sangat bervariasi, baik tanggal, pantangan, maupun lamanya.
Pencapaian Kualitas Menurut agama Hindu puasa merupakan bagian dari tapa, yaitu latihan jasmani dan rohani untuk menebus dosa dan meningkatkan daya tahan menghadapi berbagai macam penderitaan. Istilah puasa dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu upawasa, yang artinya menjauhi apa yang terdekat atau apa yang paling disenangi, seperti makan, minum, hubungan seksual dan sebagainya.
Puasa yang terutama dalam agama Hindu adalah pada hari Nyepi, dalam rangka menyambut tahun baru Saka. Waktunya hanya satu malam, dan pada malam itu umat Hindu menjauhi kesenangan secara total, diisi dengan membaca Kitab Weda dan mantera-manetra, menghentikan semua kegiatan yang tidak penting dan tidak menggunakan api (amati geni).
Dalam agama Buddha, ibadat puasa disebut upasota yang dijalankan mulai pukul 12.00 hingga 18.00. Lama puasa terserah pada pribadi masng-masing terkait dengan tingkat keutamaan yang ingin dicapai oleh setiap individu. Upasota dalam agama Buddha bersifat sukarela.
Menurut Encyclopaedia Britannica, di antara agama-agama besar, hanya agama Kong Hu Cu yang tidak mempunyai ajaran tentang puasa sebagaimana agama-agama lain. Bila diselami secara mendalam, ajaran puasa dalam agama-agama itu mempunyai tujuan untuk mencapai kualitas kerohanian tinggi, yaitu kesucian batin yang mendorong timbulnya perilaku terpuji.
Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, persiapan menghadapi bulan Ramadan sungguh luar biasa, berupa persediaan makanan dan minuman untuk berbuka, pakaian Lebaran, dana zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sadaqah, menyambut tamu Lebaran, mudik, dan lain-lain. Kegiatan umat Islam menghadapi bulan Ramadan dan Lebaran itu mempunyai efek peningkatan kegiatan ekonomi yang menguntungkan berbagai lapisan masyarakat.
Namun dalam pengamatan kita, kegiatan umat Islam lebih banyak menyangkut aspek fisik atau lahiriah. Adapun fungsi puasa untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, kesucian batin, dan solidaritas sosial tampaknya kurang berhasil menjadi kenyataan.
Hal ini perlu mendapat perhatian dari para mubalig, ustad, kiai, ulama, guru agama, dosen agama, dan lain-lain agar dalam melaksanakan dakwah dan tarbiyah lebih menekankan tentang fungsionalisasi ibadah puasa. (10)
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/10/119961/10/Menyelami-Kedalaman-Makna-Puasa
Selasa, 24 Agustus 2010
POTENSI COKLAT DI MASADEPAN
POTENSI KAKAO DI MASA DEPAN
OLEH
CATHERINE JULIANI T, SP,MMA
BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN (BBP2TP) MEDAN
Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit dan karet. Setidaknya dari segi luas areal pertanaman maupun sumbangannya kepada negara sebagai komoditi ekspor. Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia, memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao.
Kakao merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Sentra penanaman budidaya kakao di Indonesia diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara dan Swasta serta Perkebunan Rakyat. Lokasi Perusahaan Perkebunan skala besar yang diusahakan negara terletak di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan Perkebunan rakyat terdapat terutama di Maluku, Irian Jaya, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara Timur.
Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan, karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao.
Untuk meningkatkan produksi kakao di Indonesia pemerintah telah menggalakkan pertanaman kakao baik oleh perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan budidaya kakao untuk menghasilkan produksi yang optimal adalah dengan cara penyediaan bibit yang unggul dan menjaga tanaman selama di pembibitan, karena kondisi tanaman selama di pembibitan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao.
Pada masa yang akan datang komoditas kakao diharapkan menduduki tempat yang sejajar dengan komoditi perkebunan lainnya, seperti kelapa sawit dan karet. Setidaknya dari segi luas areal pertanaman maupun sumbangannya kepada negara sebagai komoditi ekspor. Pengembangan budidaya kakao tentu dengan tujuan untuk mamanfaatkan lahan yang tersedia, memenuhi konsumsi dan memperoleh devisa melalaui ekspor serta meningkatkan pendapatan produsen biji kakao.
Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Oleh karena itu kakao bukanlah tanaman asli Indonesia tetapi berasal dari Meksiko (Amerika Selatan). Sampainya di Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis dan kemudian tanaman kakao diusahakan dalam bentuk perkebunan. Perkebunan itu sebagian besar adalah milik pemerintah dan ada juga beberapa kebun milik rakyat.
Pada umumnya tanaman kakao tumbuh baik di daerah yang suhu udaranya 27-30oC, curah hujan 3000-4000 mm dengan penyebaran hujan yang merata sepanjang tahun dan tanahnya berdrainase baik. Daerah yang demikian biasanya mempunyai ketinggian tidak lebih dari 500 m di atas permukaan laut
Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah : (1) Pantai Gading (38%) , (2) Ghana (19%), (3) Indonesia (13%, sebagian besar kakao curah), (4) Nigeria (5%), (5) Brasil (5%), (6) Kamerun (5%), (7) Ekuador (4%) dan (8) Malaysia (1%). Sedangkan negara-negara lain menghasilkan 9% sisanya.
Last Updated ( Monday, 12 July 2010 13:17 )
Selasa, 17 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)